Latar Belakang Lgbt

Fenomena LGBT seperti gunung es, yang terlihat di permukaan lebih sedikit, padahal yang tak tam pak jauh le bih besar. Tentu saja, tak ada orangtua yang ingin anaknya mengalami tekanan sosial seperti ini. Ada 3 faktor yang melatarbelakangi gender LGBT, yakni genetik, pola asuh, dan trauma yang dialami anak. GENETIK Jika penyebabnya merupakan faktor genetik, orangtua dapat melihatnya dengan lebih mudah berdasarkan perilaku.

Baca juga : Beasiswa s2 Jerman

Baik dari pembawaan atau pun cara bicaranya. Beda halnya jika disebabkan faktor lingkungan maupun trauma yang mungkin tak terdeteksi pada awalnya. Bahkan pada bebe rapa kasus, orientasi seksual LGBT baru disadari di usia dewasa atau setelah menikah dengan lawan jenis. Dari beberapa penelitian, kelainan genetik dapat menyebabkan perubahan susunan kromo som yang memengaruhi perkembangan identitas seksual seorang anak. Kendati begitu, faktor ini tak bisa berdiri sendiri alias harus didukung fak tor lain sebelum akhirnya menyebabkan orientasi seksual tertentu. LINGKUNGAN Lingkungan bisa menjadi faktor penyebab paling besar.

Lingkungan keluarga yang sangat permisif, suasana rumah yang tidak kondusif, perilaku orangtua, tumbuh bersama saudara saudara yang dominan dengan jenis kelamin yang semuanya berbeda bisa membuat seorang anak berorientasi seksual berbeda. Agar tidak terjadi, orangtua hendaknya bersikap proporsional pada semua anaknya, sekaligus sadar, tiap anak punya kebutuh an berbeda. TRAUMA Basanya terjadi jika anak mengalami pelecehan seksual yang dilakukan orang dewasa atau teman berkelamin sama. Akibat peristiwa itu, di satu sisi ia merasa takut, tapi di sisi lain ia merasakan sensasi/kenikmatan yang berbeda.

Bisa jadi trauma ini akan diingatnya terus, diikuti rasa penasaran untuk mengulang sensasi seksual yang pernah di rasakannya saat itu. Dorongan inilah yang menjadi latar belakang perubahan orientasi seksual. Belum ada penelitian yang secara eksplisit menyebutkan, sejak umur berapa orientasi LGBT dapat dideteksi. Kepekaan orangtua bisa menjadi alat utama untuk melihat “lebih dalam” kondisi anaknya. Situasi menjadi rumit ketika anak me nyembunyikan keadaan yang sebenarnya, terjadi penyangkalan terhadap diri sendiri sementara ia lebih nyaman dan rindu berdekatan dengan se sama jenis atau bisa keduanya: sesama jenis dan lawan jenis. Kesadaran bahwa dirinya berbeda membuat anak usia sekolah lebih banyak menyimpan sen diri apa yang dirasakannya.

Sumber : https://ausbildung.co.id/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *