Suka Banget Berlaku Agresif Bag2

Walaupun demikian, Mama tetap perlu mengajari si kecil bahwa perilaku agresinya perlu dikendalikan. CARI PENYEBABNYA Meskipun perilaku agresif sering muncul di usia batita sebagai bagian perkembangannya, kita tetap perlu mencari tahu penyebabnya. Pertama-tama, cobalah perhatikan orang-orang di lingkungan si kecil.

Baca juga : Beasiswa S1 Jerman Full

Apakah orang-orang di sekitarnya, mungkin juga kita sendiri, biasa menyampaikan ketidakpuasan dengan cara berteriak, memukul, dan sebagainya? Ataukah batita mengamati perilaku kekerasan dari media, seperti televisi atau ponsel pintar? Jika ini yang terjadi, Nuri menyarankan agar mengatur si batita untuk tidak mengamati perilakuperilaku agresif dari orang-orang tersebut. Atau bila masalahnya ada pada kita, mohon segera koreksi perilaku ini.

 

Bagaimanapun, anak-anak adalah peniru ulung, karena meniru adalah proses belajarnya terhadap segala sesuatu di sekitar. Jadi, berikanlah lingkungan yang semaksimal mungkin mendukung tumbuh kembang positif bagi buah hati. Jika hanya sedikit kemungkinan anak belajar dari lingkungan, penyebab lain adalah fase perkembangannya sendiri.

Menurut Nuri, konteks prefrontal (tempat menalar dan membuat logika) pada batita belum berkembang. “Ini mengakibatkan anak cenderung bertindak secara instingtual dan impulsif, bahkan ketika mereka tidak mengalami tekanan sekalipun.” Apa pun penyebabnya, Nuri menekankan pentingnya tetap bersikap tenang dan terkendali ketika menghadapi perilaku kasar si batita.

“Sebisa mungkin jauhi memberi hukuman, karena hukuman pada usia ini tidak efektif dan lebih rentan menimbulkan trauma daripada pembelajaran,” jelas Nuri. Alih-alih marah atau menghukum, ketika Mama mendapati si batita berlaku agresif, berikanlah sentuhan fi sik, seperti pelukan dan ciuman, lalu coba tanyakan apa yang membuatnya merasa terganggu atau marah. Biasanya batita menjadi agresif apabila keinginannya tidak terpenuhi. Cobalah tanyakan apa keinginannya?

Apabila ia menginginkan hal yang yang sulit untuk didapatkan, coba berikan alternatif atau pengalihan. Di saat seperti ini, penting menggunakan kalimat-kalimat sederhana agar si kecil tidak semakin bingung atau tertekan. Nuri menyarankan agar kita memandang masalah ini dari kacamata anak yang kemampuannya belum cukup berkembang. Bayangkan betapa sulitnya ia mengutarakan keinginannya, agar dapat dipahami orang lain.

Sumber : https://ausbildung.co.id/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *