Berbagi Lewat Miniatur Kapal Tradisonal Bagian 2

Untuk pemesanan seperti ini, Djuhhari menggunakan kayu sonokeling atau jati, sehingga harganya ada yang tembus hingga ratusan juta rupiah. Sementara untuk pesanan cinderamata biasa, harganya berkisar antara Rp 250.000 – Rp 500.000. Walau namanya berkibar di mancanegara, namun dirinya tetap rendah hati dan masih mau berbagi ilmu. Berbagai lapisan masyarakat kerap berkunjung ke tempatnya. Pelajar SMK, pramuka, hingga 15 orang masyarakat dari Ambon pun “berguru” kepadanya. Masyarakat sekitar pun memetik manfaat.

Banyak para pemuda dan pemudi di sekitar desanya yang mengikuti jejak Djuhhari menjadi pengrajin miniatur kapal. Bagi Djuhhari, kondisi ini sangat membahagiakan. Karena dengan begitu, generasi muda bisa mengenal dan mencintai kebudayaan bahari, sekaligus mendapatkan penghasilan yang lumayan. Atas jasanya itu, berbagai penghargaan berhasil diperolehnya.

Salah satunya Seal of Excellence for Handicrafts dari UNESCO pada 2006. Danamon, pada 2012, mengganjarnya dengan Danamon Awards sebagai salah seorang Sosial Entrepreneur. “Uang hadiah dari Danamon, saya gunakan untuk keberlanjutan usaha ini,” ujarnya. Ada sebuah cita-cita yang masih terus mengganggu pikirannya. Djuhhari ingin membangun sebuah museum bahari yang berisi ratusan model kapal tradisional. Ia berharap, museum ini bisa memberi gambaran kepada pengunjung tentang kebesaran bangsa maritim, Nusantara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *