Hindari Sanksi WTO, Indonesia Tambah Impor Produk Amerika

BANDUNG — Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan Indonesia akan memperlebar keran impor bagi produk Amerika Serikat sebagai respons atas ancaman sanksi dari Organisasi Perdagangan Dunia atau World Trade Organization (WTO). Menurut dia, penambahan impor menunjukkan komitmen Indonesia untuk mengubah kebijakan yang membatasi masuknya sejumlah komoditas hortikultura dan hewani, seperti yang diprotes Amerika Serikat dan Selandia Baru. “Tak ada pilihan. Itu harus dibuka kalau kita mau perdagangan diteruskan,” kata dia di Bandung, Jawa Barat, kemarin. Enggar mengaku tengah bersiap menandatangani surat persetujuan impor sejumlah barang dari Amerika Serikat, seperti kedelai, kapas, dan daging sapi. Menurut dia, tiga komoditas itu yang paling dibutuhkan di dalam negeri. Enggar memberi contoh kedelai dari Amerika yang memenuhi 98,3 persen kebutuhan. “Perajin tempe Hindari Sanksi WTO, Indonesia Tambah Impor Produk Amerika Pemerintah segera memberangkatkan tim negosiasi. dan tahu juga protes jika kedelai didatangkan dari luar Amerika,” ujar dia. “Daging juga kita buka. Kenapa harus dibatasi dari Australia saja?” Enggar menambahkan. Namun pemerintah juga meminta imbal balik.

Selain pembatalan pengajuan sanksi ke WTO, Enggar meminta Amerika memperbesar pasar untuk ekspor garmen dan tekstil dari Indonesia yang saat ini hanya 4 persen. “Saya bilang tolong ditambah, kasih prioritas tekstil dan garmen kita. Karena pasti impor kapas dari Amerika akan meningkat,” katanya. Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), Ade Sudrajat, mengatakan tidak keberatan dengan kenaikan impor kapas dari Amerika sebagai kompensasi atas terbukanya pasar ekspor garmen dan tekstil. “Ini akan menghasilkan solusi winwin, intinya bagaimana menciptakan tenaga kerja di masing-masing negara,” kata dia. Ade mengatakan kapas dari Amerika memasok 40 persen kebutuhan. “Sisanya dari Australia dan negara lain.” Pada tahap awal impor kapas tambahan dari Amerika sekitar 10 persen. Saat ini, Indonesia berada di peringkat keenam pemasok pakaian jadi ke Amerika. Indonesia sempat berada di posisi tiga besar, tapi ekspornya anjlok karena kalah bersaing dengan Bangladesh dan Vietnam. Ade berharap, kenaikan ekspor garmen dan pakaian jadi bisa menaikkan posisi Indonesia. “Bisa di nomor empat atau lima. Menggeser Bangladesh atau Vietnam,” kata dia. Awal pekan ini, Amerika Serikat meminta WTO menjatuhkan denda US$ 350 juta atau sekitar Rp 5 triliun kepada Indonesia. Kasus ini bermula pada 2016, saat Indonesia menerbitkan 18 aturan yang dianggap sebagai hambatan nontarif untuk produk pertanian dan peternakan asal Amerika Serikat dan Selandia Baru. Produk yang terjegal aturan itu, antara lain, apel, anggur, kentang, bawang, bunga, jus, buahbuah kering, hewan ternak, ayam, dan daging sapi. Pemerintah Indonesia beralasan aturan ini bertujuan melindungi petani dan peternak lokal.

Namun Amerika dan Selandia Baru menilai aturan tersebut tidak sesuai dengan Persetujuan Umum tentang Tarif dan Perdagangan hasil kesepakatan anggota WTO. Keduanya mengadukan Indonesia ke WTO. Dalam sidang yang berlangsung pada 23 Desember 2016, Indonesia kalah. Kementerian Perdagangan mengajukan permohonan banding, tapi kalah. WTO pun mewajibkan Indonesia mengubah 18 aturan mulai 22 November 2017. Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution mengatakan akan membuat tim negosiasi dengan pemerintah Amerika Serikat. Menurut dia, pemerintah akan menilai apakah permintaan Amerika masuk akal atau tidak. Bila memungkinkan, kata Darmin, ada aturan yang diubah. Namun, untuk regulasi setara peraturan pemerintah dan undang-undang, Indonesia meminta waktu penyesuaian sampai 2020.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *